Senin, 28 November 2011

#Catatan kecil Bunda:


Menjelang pertengahan nopember, aku “menemukan” sebuah buku, 7 Heroes judulnya. Pertama kali membacanya, dalam perjalan pulang dari conter buku Mizan, Karah Agung menuju Univ. Petra Surabaya…Saking bagus dan inspiratifnya isi buku ini, dadaku sesak karena haru sepanjang membacanya…Ternyata, masih banyak orang-orang “biasa” melakukan hal-hal “luar biasa” dan mampu menjadi inspirasi dan motivator bagi orang lain.
Mereka tak membutuhkan “kebanyakan” rencana, apalagi retorika. Mereka tak memerlukan begitu banyak pelatihan, seminar dan workshop, tapi memperbanyak amal nyata…
Mereka tak menunggu kaya dan banyak harta dulu, karena kebaikan harus dimulai SEGERA…
Mereka tidak membangga-banggakan kelompok atau organisasinya, karena kebanyakan dari mereka memulainya seorang diri..
Mereka tidak menunggu meraih kekuasaan  politis dulu baru merubah kondisi, karena mereka tak butuh kekuasaan politis untuk memulai kebaikan…
Mereka tak perlu kontroversi di media massa, karena mereka bergerak dalam kesunyian…
Mereka tak butuh tanda jasa dan gelar pahlawan, karena merekalah pahlawan itu sesungguhnya……
(11 nopember 2011)

"PAHLAWAN-PAHLAWAN" KAMI.....




Sejak berdirinya MAIL, tentu saja kami membutuhkan dukungan banyak pihak untuk menjalankan beragam kegiatan yang kami agendakan. Tanpa terkecuali dukungan pendanaan. Walaupun kami yakin sepenuhnya bahwa ALLAH, YANG MAHA KAYA dan KUASA akan SELALU MEMUDAHKAN langkah-langkah kami, tetap saja kami harus melakukan beragam ikhtiar untuk membuat agenda-agenda MAIL berjalan seperti yang diharapkan.
Selama sebulan ini, kami terus berupaya mencari dukungan dari beberapa inverstor (kami menyebut para donator sebagai investor) untuk memberikan investasinya pada kegiatan kami.
Mengapa disebut INVESTASI?
Investasi identik dengan kegiatan ekonomi, yang secara simpelnya berarti mengeluarkan sesuatu (dalam ekonomi umumnya segala sumber daya ekonomi) dengan harapan menghasilkan keuntungan/income yang lebih besar.
Dalam hal ini, MAILpun menawarkan beberapa orang untuk menjadi investor tetap (rutin), di mana mereka mengeluarkan sumber daya yang mereka miliki untuk membantu kegiatan-kegiatan MAIL. Lha, terus income/keuntungannya bagaimana?..Nah, di sinilah bedanya Investasi yang ditawarkan oleh MAIL, karena, kami menawarkan keuntungan yang luar biasa, di mana keuntungan itu tidak hanya berupa kebahagiaan di dunia, karena mampu mengaktualisasi diri dengan membantu sesama (Abraham Maslow bilang NEEDS OF ACTUALIZATION adalah kebutuhan tertinggi manusia. Jadi, kami membantu memenuhi kebutuhan ini kan?); dan yang berikutnya, jika investasi ini dilakukan dengan ikhlas dan kesadaran yang tinggi, akan mendapat balasan yang tak ada putusnya di akhirat nanti. Di mana dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa diantara 3 amalan yang tidak akan terputus walaupun pelakunya sudah meninggal dunia  salah satunya adalah shodaqoh jariyah. Dan siapa yang paling baik, paling benar, paling pas memberikan keuntungan/ income selain ALLAH AL MUGHNI??...Inilah INVESTASI Khas MAIL yang kami tawarkan.
Ternyata memang tidak mudah untuk mencari investor. Tapi bukan berarti ikhtiar terhenti kan? ALLAH sedang menguji kesabaran dan kesungguhan kami, DIA Meminta kami berupaya lebih, mengupayakan jibaku kami, pengorbanan dan tangis permohonan kami yang sungguh-sungguh untuk membuka pintu-pintu langit. DIA sedang menanti usaha TIDAK BIASA kami, karena usaha BIASA saja bagi ALLAH tidak cukup untuk “membelajari” kami arti sebuah perjuangan. DIA ingin kami berlari, bergegas, berpikir keras, mengeluarkan kreatifitas, mengeluarkan segenap keringat, dan mendengar doa-doa disertai tangis kerdil kami…DIA ingin 10+1 dari ikhitar kami…
Dan, saat itupun datang. Subhaaanalloh, Alloohu Akbar!!
Tanggal 2 Nopember 2011, seorang investor, Pak Bambang Sukoco tergerak hatinya untuk menjadi investor tetap kami. Demikian juga Pak Eko Widarwanto. Menyusul tanggal 3 Nopember Bapak Yudi Kurniawan.. Siapa lagi yang menggerakkan hati mereka jika bukan ALLAH AL HUDA? Kami yakin setelah ini akan ada kemudahan-kemudahan yang ALLAH Perlihatkan kepada kami…Amiin ya Robbal ‘Alamiin.
Kepada Yang Disayang ALLAH:
1.    Bapak Bambang Sukoco
2.    Bapak Eko Widarwanto
3.    Bapak Yudi Kurniawan
Terima kasih atas kesediaanya menjadi investor MAIL, mendukung kegiatan kami dengan kebaikan dan doa-doa Bapak, Semoga ALLAH melapangkan Bapak-bapak dalam melakukan kebaikan dan mendapatkan kebaikan dalam hidup di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya, tak perlu bingung mencari pahlawan. Tidak perlu juga gelar dan tanda jasa yang mentereng…Bagi kami, bagi MAIL, mereka bertiga telah lebih dahulu menjadi pahlawan…

EPISODE HUJAN.....


Sabtu, 29 Oktober, aku berangkat dari rumah sudah tergesa-gesa. Langit mulai mendung. Sepeda motor yang kutunggu sejak jam 12 siang, datang lebih 15 menit dari rencana. Jadilah serba tergesa berangkat, karena masih harus menjemput Lilik yang menunggu dekat masjid alun-alun.
Dua jas hujan sudah kusiapkan begitu melihat langit benar-benar gelap. Dan Setan? Tentu saja mulai menggoda sejenak agar aku tidak berangkat dan meminta untuk menng-sms Lilik agar tidak berangkat saja..Tapi, ooo..tidak bisa, aku tidak boleh kalah dengan bisikan-bisikan itu. Dengan bergegas, aku berangkat, dan setan pun kalah.
Sampai di perempatan Djoyo Asri, kulihat Lilik sudah menunggu di trotoar pinggir jalan. Kuhentikan motorku di depannya. Baru saja Lilik naik di boncengan, rintik air pun turun.. (Alhamdulillaah, akhirnya hujan di Jombang, ini yang kutunggu berminggu-minggu ini). Aku tetap menyetir, tapi…..kok, hujannya tambah deras.
“Mandek yo Lik (berhenti ya Lik), pake mantel…” kataku pada Lilik.
“Ya Bund, hujannya kaya gini, ntar basah semua..”
Kamipun berhenti di depan kantor DEPAG Jombang dan segera menggunakan jas hujan. Oleh karena perjalanan hujan deras, aku tidak mungkin menyetir, karena pandanganku jelas akan terganggu. Jadilah Lilik yang menyetir di tengah hujan yang cukup deras itu.
Ternyata, jalan raya yang kami lalui, sudah banyak tergenang air di sana-sini. Dengan mobil dan bis-bis yang melaju di samping kami, jadilah kami “korban” cipratan genangan oleh mobil dan bis-bis itu. Basahlah kaos kaki, sandal, dan segala hal yang ada dekat kaki..(he..he..he..). Di daerah Bandar Kedung Mulyo, beberapa pohon tumbang, dan menghalangi jalan. Bahkan ada warung pinggir jalan yang atap sengnya semrawut karena terjangan angin yang datang bersama hujan. Beberapa tiang listrik, juga mulai miring. Mengerikan..
Alhamdulillah sampai juga di Kertosono, dan hujan mulai berkurang intensitasnya, daaaaaannn...ajaib!!, begitu sampai Lengkong, ternyata disana tidak hujan..(hadeehhh).
Dengan masih menggunakan jas hujan, kami tetap melaju. Dan di Pasar Lengkong, malah kering kerontang, benar-benar siang hari dengan matahari bersinar terang…
            Mengingat perjalanan kami sebelumnya sudah diperlambat karena hujan, maka kami tidak berniat berhenti untuk melepas jas hujan. BIarlah kami tetap pakai sampai sumbermiri, tapiiiii…..akibatnya, kami jadi perhatian sepanjang jalan (GeeR abiiiisss…). Lha, panas-panas kok pake jas hujan ya…
Sejak Pasar Lengkong, aku menggantikan Lilik menyetir, tapi, waktu mulai menaiki Bangle, dan jalan “ajaib” mendaki, Lilik kembali menjadi ridernya sampai kami tiba di Sumbermiri…Terang dan cerah di sana!!
BBM berjalan seperti biasa, hanya saja saat jam terakhir di mana aku mengajar IPS kelas 3, aku dapat kejutan dari Rois. Dia mengeluarkan sebuah mangga dari tasnya, ditunjukkanya padaku sambil tersenyum. “Wah, mangga…., ini buat bunda ya Is?” tanyaku. Rois senyum-senyum…(ganteng banget siy..)..”Is, mangganya ini buat bunda?”…”Iya Bund, buat bunda…,” katanya. Diberikannya mangga itu padaku. “Waah, terima kasih ya Is…baik banget siy kamu,” pujiku. “hehehe..,” Rois masih tersenyum.
“Cuma satu? Buat bunda tok to ini?”, tanyaku. “Iya,” Rois mengangguk. “…Asiiikk, yang laen gak boleh ngiri!!”, kataku sambil menunjukkan mangga itu ke Lilik, Lilik tertawa sambil manyun (gimana caranya ya…hehehe..)
Thank U Rois….

Kamis, 24 November 2011

Episode Outbond (sederhana)


Sabtu, 22 Oktober, pembelajaran yang kami lakukan agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini kami membagi anak-anak dalam 5 kelompok. Satu kelompok terdiri dari 6-7 anak dengan kelas yang berbeda. Setiap kelompok akan berjalan di rute yang telah ditetapkan (mengelilingi 1/5 desa sumbermiri) dan melewati 5 pos. Di setiap pos, mereka harus mengerjakan tugas/menuliskan jawaban dari pertanyaan yang ada.
Setelah sampai di finish, yaitu di balai desa, kami menjawab soal-soal itu bersama-sama kemudian memberi nilai pekerjaan setiap kelompok. Kami tentukan pemenang kesatu dan kedua dan memberi mereka hadiah.
Keramaian akibat kegiatan ini luar biasa. Dan anak-anak itu ternyata memang BOLANG sejati. Yang semula aku perkirakan mereka butuh waktu sekitar 1-1,5 jam untuk menyelesaiakan “putaran 5 pos” itu, ternyata…tidak sampai satu jam sudah ada diantara mereka yang sudah kembali ke pos 1 di balai desa.
LOVE U ALL kids…..

Jumat, 25 Nopember 2011.....

HARI GURU???
Ini beberapa Guru yang bener-bener PAHLAWAN....

Bu Muslimah
Hampir semua orang terpana, ketika nama perempuan ini menjadi tokoh protagonist dalam novel debutan Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Ternyata, tokoh Bu Muslimah itu benar-benar ada.
Bukan orang kaya maupun lulusan pendidikan tinggi; tekad, kesungguhan dan perjuangannya memperbaiki pendidikan di kampungnya di tengah keterbatasan, membuat malu banyak orang.
Dengan 10 muridnya di SD. Muhammadiyah Belitong, Bu Muslimah melewati hari-harinya untuk mengajar dalam segala kebersahajaan. Tak seberapa “reward” yang ia terima, tapi keikhlasan dan cintanya pada murid-muridnya, teramat berkesan. Dan seorang Ikal kecil, tak pernah melupakan sosok Ibu guru teladan itu, hingga dibawanya dalam novel inspiratifnya yang ditulisnya puluhan tahun kemudian…

Wanhar (47 tahun)
Menjadi guru di usia 15 tahun. Keadaan mamaksanya demikian. Baru saja lulus SD, guru satu-satunya sekaligus Kepala sekolah di SDN di Muara Enim, Sumatera Selatan, memasuki masa pensiun. Wanhar ditunjuk untuk menggantikan posisinya, sebab tak ada yang berminat menjadi guru di kampungnya.
Dengan segala keterbatasan yang ada, jadilah bocah 15 tahun itu menjadi guru bagi adik-adik kelasnya sendiri. Sekitar 60 murid, tak mampu membayar iuran yang diwajibkan sebesar Rp 5.000 per bulan. Untuk itulah Wanhar “memutar otak” untuk mencari tambahan penghasilan. Dan dia menjadi buruh penyadap karet agar tidak membebani orang tua murid untuk membayar “upah mengajarnya”.
Selain murid yang miskin, kondisi sekolah juga memprihatinkan. Hanya memiliki dua kelas, dindingnya lapuk dan atapnya bolong-bolong. Saat ini, Wanhar dibantu oleh adik dan keponakannya yang tamatan SMU untuk mengajar, dan hanya digaji Rp 58.000 sebulan. (Kick Andy, kumpulan kisah inspiratif 2)

Jufri Umar
Dia, putus sekolah di usia 12 tahun saat kelas 5 SD. Dia putus sekolah karena miskin. Di usia itu, orang tuanya meninggal dunia, dan ia harus menghidupi ketiga adiknya. Jadilah ia tulang punggung ekonomi keluarga.
Tapi, dia tidak membiarkan dirinya bodoh, ia bertekad untuk terus belajar walaupun tanpa menghasilkan ijazah. Sampai suatu saat, ia mengikuti sebuah sekolah diniyah yang bangunannya tidak layak menjadi sebuah sekolah. Ditambah lagi pembelajarannya, menurut laki-laki ini ketinggalan jaman. Saat dia mempertanyakan proses pembelajaran itu, ia malah ditantang untuk mengajar. Dan jadilah ia mencoba sesuatu yang mulanya “asing” bagi dirinya.
Ketekunan dan kesungguhannya dalam mengajar dan melalui masa-masa sulit, membuat pemilik sekolah salut kepadanya. Dia pun dipercaya sebagai kepala sekolah dari tahun 1986-1992.
Dialah Jufri Umar, bintang tamu dalam acara Kick Andy yang bertema pendidikan, juga salah satu nominator zero to hero. Di bawah kepemimpinan Jufri Umar, sekolah yang tadinya hanya MI, akhirnya dapat berkembang sampai memiliki Tsanawiyah. Bahkan beberapa kali murid-muridnya berprestasi setiap kali ujian nasional diadakan. Sekolah yang didirikan Jufri, menggratiskan semua biaya pendidikan bagi murid-muridnya, jauh sebelum BOS diluncurkan.
Apa yang membuatnya menggratiskan biaya sekolah bagi murid-muridnya? Ternyata pengalaman tidak bisa melanjutkan sekolah karena kemiskinan yang membuatnya termotivasi mendirikan sekolah gratis.
Supaya anak-anak di desa saya, tidak bernasib sama seperti saya. Bahkan, saya pernah bercita-cita, seandainya saya kaya, orang satu desa saya gratiskan sekolah. Ternyata belum kaya itu sudah terwujud,” katanya dalam wawancara dengan Andy Noya.
Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, Jufri umar tetap bertani dan bekerja serabutan. Dia juga pernah memperoleh uang dari menuliskan pembelaan hukum perdata. Uang itu sebagian dia sisihkan untuk keperluan pembangunan sekolah.
Menurutnya, orangtua murid di sekolahnya, tidak mungkin menanggung biaya pembangunan sekolah. “90% orangtua murid adalah TKI yang bermasalah, korban trafficking, putus kontrak, tidak dibayar, dianiaya. Pulang ke kampung, mereka tidak bawa uang, “ tuturnya.
Sekarang, bangunan sekolah yang dirintis Jufri, sudah tergolong bagus. Ada gedung yang bertingkat dan sedang membangun asrama untuk murid yatim piatu. Walaupun demikian, Jufri Umar masihlah sosok orang yang sederhana. (kumpulan kisah inspiratif 2)

Rudi M.S
Guru SD yang satu ini, ke mana-mana selalu membawa tongkat, karena kaki kananya cacat. Namun, ia tetap leluasa berdiri di depan kelas untuk mengajar anak-anak SD di Kampung Cikoneng, Puncak, Jawa Barat. Selama 27 tahun di sana, ia merintis sekolah gratis.
Semua berawal saat Rudi berjalan-jalan di daerah Rawa Gede, Cikoneng, Tugu Utara, Cisarua, Jawa Barat. Di sana ia melihat anak-anak bermain pada jam sekolah. Rupanya tidak ada sekolah di kawasan itu. Akhirnya Rudi, berinisiatif membuka SD dengan cara membujuk para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Akhirnya, Rudi berhasil mendapatkan 10 anak.
Pertama dibuka tahun 1982, sekolah Rudi belum memiliki gedung. KBM dilakukan dengan menggelar tikar di sebuah gubuk penimbangan teh. Bertahun-tahun seorang diri, Rudi menjadi guru kelas 1 sampai kelas 6. Rudi tidak pernah memungut bayaran.
Hanya ingin melihat warga di sekitar saya terbebas dari kebodohan, kebutahurufan. Kalau tidak ada sekolah, bagaimana mereka bersaing di zaman modern ini?”, kata Rudi.
Supaya sekolahnya maju, Rudi sering mencontoh SD Negeri Ciburial yang tidak jauh dari sana. Mutu pendidikan pun bisa ditingkatkan. Akhirnya, SD Cikoneng bisa berubah menjadi SD Negeri.
Di balik tekad kuatnya, ternyata untuk menambal hidup, Pak guru ini menjalani profesi yang luar biasa. Usai mengajar, Rudi menjadi tukang parkir dan penjaga WC. Dia menjalani profesi sambilannya di lokasi wisata Telaga Warna, Puncak Pass, Kabupaten Cianjur. Di sanalah suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang terheran-heran bahwa seorang guru menyambi pekerjaan sebagai tukang parkir dan penjaga WC. Lebih heran lagi ketika menyaksikan sekolahnya hanya bermodalkan tikar.
Orang yang ternyata Camat Cisarua ini, akhirnya menawari Rudi untuk membangun gedung sekolah, dan terbangunlah lima ruang kelas di sana pada tahun 1996. Jumlah muridnya pun meningkat dan guru-guru lain berdatangan. Beban mengajar seorang diri yang selama 14 tahun mengajar sekolah itu sendirian pun mulai berkurang. (kumpulan kisah inspiratif2)

Raja Dima Siregar
 
Dia, bertahun-tahun, bertahan seorang diri mengajar di sebuah SD di pedalaman Sumatera Utara. Dan hanya dibayar dengan beras.
Dia hanyalah seorang buruh tani, tetapi hatinya tidak rela melihat anak-anak terlantar tak bersekolah. Di kampungnya memang tidak ada sekolah. Karena kondisi itulah ia membangun sebuah SD darurat, yang dindingnya hanya dari papan, dan beratap seng. Sejak 2004, Dima mengajar seorang diri semampunya di SD yang bertempat di kawasan perkebunan Padang Lawas, Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran, Barumun Tengah, Tapanuli Selatan.
Walaupun tidak berijazah guru, ia merasa terpanggil untuk mengajar, ketika warga memintanya untuk mengajar. Awalnya, muridnya hanya 10 orang, kini ada 60 murid, dan ia mengajar seorang diri dari kelas 1 hingga kelas 6.
Setiap murid dikenakan bayaran berupa beras 4,5 kg per bulan. Ini sudah mencukupi kebutuhan hidup Raja dan keluarganya, di sebuah dusun yang belum tersentuh aliran listrik. Ia pun masih mempertahankah profesinya sebagai buruh tani. (kumpulan kisah inspiratif 2)

......Mengabdi....tanpa pamrih....
Memberi, tanpa berharap balas.....
Berjuang, tanpa ingin dikenang...........
Berkorban, dalam kesunyian.............
Guru INDONESIA....mari mendidik bangsa....
dengan kejujuran, kebaikan, dan pengabdian...
SELAMAT HARI GURU....

Episode Rabu, 19 Oktober 2011


Hari ini, Mardi pertama kali mengikuti BBM di Sumbermiri. Setelah sembuh dari gelaja typus dan diare selama seminggu, dan mengatur jadwal mengajarnya, dia akhirnya bisa berangkat ke Sumbermiri. Sempat beberapa kali lupa arah belok ke sumbermiri, tapi akhirnya dia (bersama kita) sampai juga sebelum jam 2 siang di balai desa Sumbermiri.
Hari ini, murid yang BBM juga bertambah. Ada Santi kelas 4, ada Yoga kelas 6, ada Rizki kelas 1, dan ada anak-anak dari desa tetangga sumbermiri yang juga ikut, mereka Silvi, Dwi, Atik, Danang, Dita, Putero, Feri, Deni, dan Dimas yang berasal dari Desa Suruh dan Bendo Rayut. Kedua desa itu berada “benar-benar” di tengah hutan. Jumlah KK di masing-masing desa itu tidak sampai 30. (Penasaran mau berkunjung…)
Dengan tingkat kesulitan dalam menyambangi balai desa Sumbermiri, sebenarnya anak-anak dari dua desa itu, kami maklumi jika tidak mengikuti BBM, ya…sesanggup mereka sajalah untuk hadir dalam BBM. Mereka mau bergabung pun, walau tidak hadir rutin, kami sangat syukuri.
Entah mengapa, aku merasakan gejolak seperti orang jatuh cinta, setiap kali memikirkan anak-anak itu. Aku merindukan saat-saat bertemu mereka, merindukan tertawa lepas bersama mereka, merindukan “kenakalan dan keliaran” mereka, usilnya, guyonannya…dan panggilan mereka:…”bunda…bunda…”… (oalah..*melow.com)
Hari ini agak terharu mendengar suara adzan yang dilantunkan anak-anak itu…hmmm…siapa ya? Dimas, ataukah Ribut?? Yang jelas selama ini, menurut Indah, adzan jarang dikumandangkan di masjid tersebut, dan anak-anak ini, setiap kali MAIL berkunjung untuk BBM, setiap waktu Ashar mengumandangkan adzan secara bergantian. Tak apalah, minimal seminggu dua kali dan setiap ashar dulu. Insya ALLAH jika kami bisa mendirikan SMP di sana, kami upayakan dzuhur juga rutin berkumandang adzan dan sholat berjama'ah... (Amiin ya ALLAH, Taqobbal du’anaa…)
(wanna CRY. Com.....)

(Masih) Episode SARI

Rabu, 12 oktober 2011

SATU hari di rabu sore:..
"di sekolah ada berapa temannya Sari?"
"..ada..berapa ya..(menghitung dan menyebutkan nama temannya satu persatu.."
"..jadi,ada berapa?"
"..sembilan!, sepuluh sama aku..”
"..iya. Gurunya ada berapa?"
"..dua..b.yuni sama b.puji.."
"..seneng gak sekolah?"
"seneng..
"biar apa siy sekolah?"
"pinter.."
"..emang nek wes gede,sari pengen dadi opo siy (memang kalo sudah besar Sari mau jadi apa-red)?..
"GURU!!"(langsung jawab-)
[...ya ALLAH,kabulkanlah mimpi-mimpinya,mudahkanlah jalanya,karena ada cahaya semangat di mata dan senyum mungilnya...semoga Sari,semoga ALLAH Membimbingmu selalu]

Rabu ini, balai desa digunakan kumpul ibu-ibu..Jadi, BBM dipindah ke rumah Indah dan Agus. Dan sepulang sholat ashar, sambil kembali ke rumah Indah dari masjid, aku terlibat obrolan asik dengan Sari, anak 6 tahun yang selalu hadir tepat waktu untuk BBM…